Kamis, 19 Desember 2013

CERITA PENDEK


Pengertian

Cerpen merupakan karangan fiktif yang berisi sebagian kehidupan seseorang atau kehidupan yang diceritakan secara ringkas yang berfokus pada suatu tokoh.

Cerpen adalah singkatan dari cerita pendek, disebut demikian karena jumlah halamannya yang sedikit, situasi dan tokoh ceritanya juga digambarkan secara terbatas (Rani, 1996:276).

Mengutip Edgar Allan Poe, Jassin (1961:72) mengemukakan cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam (dalam Nurgiyantoro, 2000:72).

Dalam bukunya berjudul Anatomi Sastra (1993:34), Semi mengemukakan: cerpen ialah karya sastra yang memuat penceritaan secara memusat kepada suatu peristiwa pokok saja. Semua peristiwa lain yang diceritakan dalam sebuah cerpen, tanpa kecuali ditujukan untuk mendukung peristiwa pokok.

Masih menurut Semi, dalam kesingkatannya itu cerpen akan dapat menampakan pertumbuhan psikologis para tokoh ceritanya, hal ini berkat perkembangan alur ceritanya sendiri. Ini berarti, cerpen merupakan bentuk ekspresi yang dipilih dengan sadar oleh para sastrawan penulisnya.


Ciri-ciri

Ciri Umum:
a.       Bersifat fiktif
b.      Panjang cerpen kurang dari 10.000 kata
c.       Habis dibaca dalam sekali duduk
d.      Memiliki kesan tunggal (aspek kehidupan)
e.      Bersifat padu,padat dan intensif
f.        Terdapat konflik tetapi tidak sampai menimbilkan perubahan nasib pelaku utama
g.       Hanya terdapat satu alur saja
h.      Perwatakan/penokohan dilukiskan secara singkat

Berdasarkan jumlah katanya, cerpen dipatok sebagai karya sastra berbentuk prosa fiksi dengan jumlah kata berkisar antara 750-10.000 kata. Berdasarkan jumlah katanya, cerpen dapat dibedakan menjadi 3 tipe, yakni.
1. Cerpen mini (flash), cerpen dengan jumlah kata antara 750-1.000 buah.
2. Cerpen yang ideal, cerpen dengan jumlah kata antara 3.000-4000 buah.
3. Cerpen panjang, cerpen yang jumlah katanya mencapai angka 10.000 buah. Cerpen jenis ini banyak ditulis oleh cerpenis Amerika Serikat, Amerika Latin, dan Eropa pada kurun waktu 1940-1960 (Pranoto, 2007:13-14).

Berdasarkan teknik cerpenis dalam mengolah unsur-unsur intrinsiknya cerpen dapat dibedakan menjadi 2 tipe, yakni.
1. Cerpen sempurna (well made short-story), cerpen yang terfokus pada satu tema dengan plot yang sangat jelas, dan ending yang mudah dipahami. Cerpen jenis ini pada umumnya bersifat konvensional dan berdasar pada realitas (fakta). Cerpen jenis ini biasanya enak dibaca dan mudah dipahami isinya. Pembaca awam bisa membacanya dalam tempo kurang dari satu jam
2. Cerpen tak utuh (slice of life short-story), cerpen yang tidak terfokus pada satu tema (temanya terpencar-pencar), plot (alurnya) tidak terstruktur, dan kadang-kadang dibuat mengambang oleh cerpenisnya. Cerpen jenis ini pada umumnya bersifat kontemporer, dan ditulis berdasarkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang orisinal, sehingga lajim disebut sebagai cerpen ide (cerpen gagasan). Cerpen jenis ini sulit sekali dipahami oleh para pembaca awam sastra, harus dibaca berulang kali baru dapat dipahami sebagaimana mestinya. Para pembaca awam sastra menyebutnya cerpen kental atau cerpen berat.


Unsur Intrinsik

1)      Alur
Rangkaian peristiwa yang membentuk sebuah cerita
Bagian-bagian alur:
a.       Tahap penyituasian atau pengantar/pengenalan
Tahap pembukaan cerita atau pemberian informasi awal, terutama berfungsi untuk melandasi cerita yang dikisahkan pada tahap berikutnya.
b.      Tahap pemunculan konflik
Tahap awal munculnya konflik. Konflik dapat berkembang pada tahap berikutnya . Peristiwa-peristiwa yang menjadi inti cerita semakin mencengangkan dan menegangan.
c.       Tahap klimaks
Konflik-konflik yang terjadi atau ditimpakan kepada para tokoh cerita mencapai titik intensitas puncak yang biasanya di alami oleh tokoh-tokoh utama.
d.      Tahap peleraian
Penyelesaian pada klimaks , ketegangan di kendurkan , konflik-konflik tambahan di beri jalan keluar, kemudian cerita di akhiri, disesuaikan dengan tahap akhir di atas.
e.      Tahap penyelesaian
Konflik sdah diatasi/diselesaikan oleh tokoh. Cerita dapatdi akhiri dengan gembira ata sedih.

2. Tokoh
Tokoh adalah pelaku pada sebuah cerita. Tiap-tiap tokoh biasanya memiliki watak , sikap, sifat dan kondisi fisik yang disebut dengan perwatakan/karakter. Dalam cerita terdapat tokoh protagonis (tokoh utama), antagonis (lawan tokoh protagonis) dan tokoh figuran / tokoh pendukung cerita.

3. Penokohan (perwatakan/karakterisasi)
Pemberian sifat pada pelaku-pelaku cerita. Sifat yang diberikan akan tercermin pada pikiran, ucapan, dan pandangan tokoh terhadap sesuatu.
2 metode yang digunakan:
a.       Metode analitik
Metode penokohan yang memaparkan atau menyebutkan sifat tokoh secara langsung, misal, pemarah, penakut, sombong, pemalu, keras kepala.
b.      Metode dramatik
Metode penokohan yang tidak langsung memaparkan atau menggambarkan sifat tokoh melalui:
1.       Penggambaran fisik (berpakaian, postur tubuh, bentuk rambut, warna kulit)
2.       Penggambaran melalui cakapan yang dilakukan tokoh lain
3.       Teknik reaksi tokoh lain yang berupa pandangan, pendapat, sikap, komentar.


4. Latar
Latar merupakan keterangan yang menyebutkan waktu, ruang dan suasana terjadinya peristiwa pada sebuah karya sastra
Jenis-jenis latar :
a.       Latar waktu
ü  Keterangan tentang kapan peristiwa itu terjadi . Misal, pagi,siang, sore, malam.
b.      Latar tempat
ü  Keterangan tempat peristiwa itu terjadi. Misal di rumah, di sekolah.
c.       Latar suasana
ü  Latar suasana menggambarkan peristiwa yang terjadi. Misal, gembira, sedih romantis.

5. Sudut pandang
Posisi pengarang pada sebuah cerita . Terdiri :
a.       Sudut pandang orang pertama
Menggunakan kata ganti “aku” sebagai pelaku utamanya.
b.      Sudut pandang orang ke dua
Menggunakan kata ganti “kamu” sebagai pelaku utamanya.
c.       Sudut pandang orang ke tiga
Menggunakan kata ganti “ia, dia, mereka” sebagai pelaku utamanya.
d.      Sudut pandang campuran
Menggunakan kata ganti “aku” dan “kamu” sebagai pelaku utamanya.

6. Tema
Gagasan utama/pikiran pokok.
Tema merupakan pokok pembicaraan yang mendasari cerita . Tema bersifat menjiwai keseluruhan cerita dan mempunyai generalisasi yang umum, oleh karena itu, untuk menemukan tema sebuah karya fiksi harus disimpulkan dari seluruh cerita, tak hanya bagian-bagian tertentu dari cerita. Tema sebagai salah satu unsur karya fiksi sangat berkaitan erat dengan unsur-unsur yang lainnya.

7. Amanat
Pesan yang ingin disampaikan pengarang melalui karyanya kepada pembaca / pendengar. Pesan bisa berupa harapan, nasehat, kritik dan sebagainya.

Contoh:

UMAT YANG TAK SEMPURNA
Sreeg.. Sreeg.. Terdengar bunyi “speaker” dari Mushalla depan rumahku, padahal baru saja keluargaku merebahkan diri di lantai ruang keluarga yang sempit memanjang, penuh sesak dengan berbagai jenis mainan adikku serta barang-barangku. Di sudut ruangan itu terdapat pula sebuah televisi kecil hanya 14”, serta kulkas polytron besar, dan sebuah meja makan di sudut lainnya. Tak terbayangkan betapa sempitnya ruangan ini, namun ruangan inilah yang menyatukan kami saat tidur siang musim kemarau seperti ini, karena kalau tidur di atas ranjang terasa sangat panas bagi kami.
Suara yang baru saja tiba-tiba hilang, kini telah berganti dengan suara yang merdu, kumandang adzan, pertanda telah memasuki waktu Shalat Dhuhur padahal baru pukul setengah dua belas siang. Aku bingung sendiri dalam benakku, harus bagaimana? Ingin rasanya bertemu dengan Sang Khaliq, namun mata dan seluruh tubuh ini bagaikan protes pada hatiku karena terlalu lelah setelah menyetrika baju hari ini.
Aku mulai bangkit, terduduk, termenung, meratapi satu-persatu anggota keluargaku. Ku lihat ayah yang tertidur dengan posisi tengkurang sambil memeluk bantal kesayangannya. Hanya dengan menggunakan celana pendek berwarna merah dan topless (tak menggunakan atasan sama sekali), membuatnya tubuhnya lebih dapat merasakan dinginnya lantai ini. Kulitnya yang sawo matang, otot-otot yang besar, perawakan yang tinggi dan gagah, rambut pendek dan lurus, terlihat cukup polos dalam tidurnya kali ini. Wajah garang yang biasa ia tampakkan kini telah memudar. Di sisi lain, kulihat bunda yang memakai kaos putih lengan pendek dengan motif tutul hitam di sekujur kain, serta mengenakan celana pendek hitam polosnya yang semakin hari semakin tipis, tampak tertidur lelap. Bunda tak jauh berbeda dari yang biasa kulihat, berkulit putih, berambut pendek yang ikal, tubuh yang agak gemuk, dagu yang terbelah sedikit, bibir yang senantiasa dibalur dengan lipstik,dan tahilalat di bawah ali kanannya, hanya saja kulit di samping bagian matanya sedikit mengerut. Dan di sampingnya ada adikku yang tengah asik bermain dari tadi, entah apapun yang ia katakan dan ditulisnya dari tadi, sungguh sulit kuartikan, ia hanya sekedar ngoceh sendiri sesukanya dari tadi. Adikku semakin hari tampak semakin besar, perawakannya yang tegap, agak gemuk, rambut pendek lurus, kulit sawo matang, bibir yang tipis, serta dagu yang terbelah seperti ibu, kini bagaikan tak peduli dengan cuaca. Walaupun sepanas ini, ia mengenakan pakaian lengan pendek yang tebal, lengkap dengan pasangan bawahannya yang berupa celana berwarna biru yang teampak semakin luntur warna kainnya.
Sampai adzan telah selesai dikumandangkan aku masih belum dapat menentukan pilihanku, lalu aku beranjak ke kamarku dan beristirahat di atas ranjang. Namun tubuh ini protesnya semakin berat, karena ranjangku terasa begitu panas, walaupun aku hanya mengenakan celana pendek selutut yang tipis dengan atasan kaos pendek yang tipis pula. Ku coba untuku memejamkan mata, bergerak kesana-kemari untuk mencari posisi tidur yang nyaman, namun mata ini tak bisa diajak kompromi lagi. Daripada buang-buang waktu, aku bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wundhu dan Shalat Dhuhur berjamaah di depan rumahku sekalian. Mumpung hari Minggu jadi ada kesempatan untuk shalat berjamaah, pikirku. Tapi otak ini protes bagai mencibir hatiku, “Kalau memang ingin menjadi hamba Allah yang benar-benar Ittaqullah (bertaqwa kepada Allah), kenapa masih menuruti keinginan hati untuk enak-enakan tidur? Memangnya nanti setelah tidur, kamu pasti bisa bangun lagi seperti keadaan awalmu akan tidur? Atau justru akan disuguhi dengan jilatan api neraka?” Tapi hati ini juga tak mau kalah, “Ya, memang belum tentu aku dapat terbangun lagi, karena bisa saja Tuhan mencabut nyawaku sewaktu-waktu, kapanpun yang Dia mau, tapi apa tidak boleh meminta keringanan waktu sebentar saja untuk sekedar merebahkan diri? Kan nanti kalau bangun bisa langsung shalat tanpa ditunda lagi karena tubuh sudah tak begitu lelah”. Sugesti otak kembali membalas, “Ah sudahlah! Banyak bicara tak dapat menyelesaikan masalah kalau tanpa adanya tindakan, lebih baik segera berangkat saja ke Mushalla mumpung belum Iqamah! Tapi terapkan pula pada hatimu untuk menomor satukan Tuhan, Allah Azza Wajalla dibandingkan yang lain, termasuk dirimu sendiri!” Dalam hati ini berkata: “Insya Allah, aku akan selalu berusaha untuk melakukannya, karena aku ingin menjadi hamab Allah yang sempurna dengan kedudukan tertinggi (yang paling bertaqwa) walau selama ini banyak salah dan dosa yang telah aku perbuat.”
Tak lama kemudian ayah terbangun dan segera mengambil air wudhu pula dan aku segera mengenaka mukena lalu berangkat ke Mushalla dengan memantapkan hati untuk menghadap Sang Illahi Rabbi yang kurindukan. Ingin rasanya hati ini segera bersujud pada-Nya seraya memohon ampun atas segala khilafku.

Created by: Sita Nuraini
Minggu, 20 Oktober 2013
Finish: 13.24 WIB